Kematian seseorang yang berarti bagi seorang manusia umumnya akan mengakibatkan stress psikologis yang akut. Walau seiring berjalannya waktu mereka akan beradaptasi, namun terdapat peningkatan risiko mortalitas yang tiba-tiba tinggi pada hari dan minggu – minggu pertama pasca kehilangan. Namun hubungan sebab akibat antara kedua hal ini belum pernah diteliti dengan sistematis. Sebuah jurnal AHA terbaru diluncurkan 9 Januari 2012 lalu. Yang menarik dari jurnal ini adalah karena jurnal ini meneliti mengenai peningkatan risiko infark miokard pada pasien dalam beberapa hari setelah kematian seseorang yang berarti dalam kehidupannya.

Penelitian menggunakan metode case-crossover, varian dari kasus-kontrol. Studi ini sering dipakai jika ingin meneliti hubungan antara sebuah pajanan yang transien (dalam hal ini kematian seseorang yang disayangi) yang bersifat perubahan drastis yang mempengaruhi kejadian akut. (dalam hal ini infark miokard non-fatal). Penelitian ini membandingkan laporan subyek yang kehilangan seseorang yang disayangi beberapa hari sebelum onset MI sebagai kasus, dan laporan subyek yang sama periode 1 – 6 bulan sebelum onset MI sebagai kontrol. Metode self-matching ini mengeliminasi berbagai confounding sebab kasus dan kontrol adalah subyek yang sama dalam faktor risiko, aktivitas fisik dan obat-obatan yang dikonsumsi. Periode kontrol dipilih waktu 1 – 6 bulan (31 – 180 hari sebelum onset MI) dimaksudkan untuk mengurangi recall bias, karena pada periode ini subyek dianggap masih dapat mengingat dan melaporkan dengan jelas jika ia mengalami kehilangan seseorang yang disayangi.

Dari 1985 peserta, 270 orang melaporkan kematian seseorang yang disayangi dalam 6 bulan sebelum onset MI. Dari 270 orang tersebut, 19 orang mengalami MI dalam kurun waktu 24 jam setelah kehilangan, 7 orang dalam 24-48 jam, 5 orang dalam 48 – 72 jam, 21 orang dalam 4-7 hari setelah kehilangan. Dari 19 orang yang mengalami MI dalam 24 jam, dikatakan orang yang kehilangan tersebut bersifat moderately dan extremely meaningful.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa incidence rate ratio (IRR) terjadi MI didapatkan paling tinggi pada kurun waktu 24 jam setelah kehilangan yaitu 21.1 (95% CI 13.1 – 34.1). IRR menurun secara progresif seiring bertambahnya hari setelah kehilangan orang yang disayangi, menjadi 5.8 pada hari ke-7 (95% CI 3.7 – 9.2), tapi peningkatan yang signifikan tetap ada selama kurang lebih satu bulan setelah kematian orang yang disayangi.

Secara berurutan pada kelompok MI 5%, 10%, dan 20% 10 year MI risk, didapatkan number needed to harm adalah 1 per 1394, 678, dan 320 secara berurutan (risiko berdasarkan Framingham Risk Score).

Studi ini juga menunjukkan bahwa pria lebih rapuh untuk terjadi penurunan kualitas kesehatan daripada wanita terkait kehilangan orang yang disayangi. Begitu pula kaum muda ternyata lebih rapuh daripada kaum yang lebih tua. Risiko juga dilaporkan meningkat pada mereka yang merasakan amarah, anxietas, atau depresi sekitar 2 jam sebelum onset (semua p < 0.001).

Hubungan antara kematian orang yang berarti sebagai faktor pemicu ini dengan onset akut MI secara patofisiologi dapat dijelaskan melalui jalur peningkatan afek negatif, seperti depresi, anxietas, dan amarah. Selain itu, stress emosional juga dapat menyebabkan stress fisik melalui berkurangnya waktu tidur, berkurangnya nafsu makan, penurunan kadar kolesterol dan LDL, serta kadar kortisol yang meningkat. Kortisol meningkatkan aktivitas simpatis, sehingga terjadi perubahan–perubahan hemodinamik akut seperti peningkatan resistensi vaskular, yang dapat menyebabkan iskemia miokard transien dan/atau disrupsi plak aterosklerosis.

Karena hasil penelitian menunjukkan bahwa asosiasi terkuat antara kehilangan dan onset MI adalah dalam hitungan hari setelah kehilangan, dapat disimpulkan bahwa onset MI bukanlah diakibatkan konsumsi obat kardiovaskular yang terlewat. Tidak juga ada yang melaporkan lupa untuk mengonsumsi beta-blocker yang dapat menyebabkan rebound dari hipertensi.

Stress emosional atau fisik dapat menyebabkan gejala – gejala yang mirip dengan infark miokard akut, seperti nyeri dada, elevasi segmen ST, dan peningkatan CK dan troponin. Sindrom yang bernama stress cardiomyopathy atau Takotsubo cardiomyopathy atau broken heart syndrome ini menyebabkan disfungsi ventrikel kiri yang berat namun bersifat transien dan akan pulih dalam beberapa hari sampai minggu. Tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa kasus infark miokard dalam penelitian ini mungkin sebenarnya adalah Takotsubo cardiomyopathy.

Studi ini memiliki beberapa kekurangan. Pertama, karena hanya 19 dari 270 orang yang melaporkan onset MI terjadi 24 jam setelah kehilangan orang yang disayangi, maka tidak dapat dievaluasi apakah hubungan tertentu antara yang meninggal dan yang ditinggalkan dapat menyebabkan variasi dalam hasil penelitian. Kedua, dapat terjadi overestimasi dari IRR karena subyek yang mengalami pajanan dalam periode kasus akan bercerita lebih detil dan mengeluarkan emosinya lebih daripada pajanan yang terjadi pada periode kontrol. Ketiga, beberapa subyek mungkin saja salah melaporkan detil waktu terjadinya kehilangan, namun kehilangan seseorang yang disayangi adalah sebuah kejadian yang jarang terlupakan, sehingga kemungkinan besar detil waktu yang dilaporkan memang benar adanya. Keempat, karena studi case-crossover menggunakan subyek sebagai kontrol-nya sendiri, maka perancu faktor risiko yang bersifat kronik dapat disingkirkan, namun kita tidak dapat menyingkirkan kemungkinan adanya pemicu lain yang terjadi bersamaan dengan kematian seseorang yang disayangi.

(Mostofsky E, et al. http://circ.ahajournals.org/content/early/2012/01/09/CIRCULATIONAHA.111.061770)

Dwita Rian Desandri

Gugu Khayalan

Posted: May 15, 2011 in Ugly poetries

Seandainya cuaca bersandar padaku

Kukirimkan angin musim gugur untukmu

Read the rest of this entry »

A travelling note

Waktu: 30 Mei – 1 Juni 2011

Tempat: Jakarta – Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Jampang Kulon – Ujung Genteng – Pantai Pangumbahan – Curug Cikaso

Anggota: Wita, Uti, Anita, Demy, Rara, Nicko, Omar, Tommie, Ari, Vini, Ginal, Ika, Uti Nilam, Nana, Haryo, Akbar

Semua bermula dari ajakan teman saya Anita Suryani, demi merayakan hari ulang tahunnya. Ajakan pertamanya adalah ke kebun Stroberi dan Teluk Salabintana di daerah Sukabumi. Akhirnya jadwalnya jadi begini nih: Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Jampang Kulon – Ujung Genteng – Salabintana. Dalam 2 hari 1 malam. Setelah berbagai kerumitan mengenai cara berangkat, maka berangkatlah… jeng, jeng, 15 orang!

Saya, Anita, Demy, Uti, dan Akbar (pacar Uti) berangkat dari pagi ke Sukabumi, menjemput Omar yang harus jaga IGD pagi sampai jam 12 siang. Sementara Ika, Tommie, Ari, dan Haryo (pacar Vini) menjemput Vini di Soreang dahulu, baru ke Sukabumi. Ratna dan Rara pergi ke Sukabumi naik bus. Uti Nilam, Ginal, Omar, menunggu di Sukabumi.

Jam 6 pagi hari Sabtu, berangkatlah kami ke Sukabumi, diiringi canda tawa gosip seputar internship. Perjalanan di Sukabumi cukup lancar berkat jalan tikus yang dikasihtau Omar. Namun, Sukabumi macett di daerah Cibadak. Bodoh banget deh arsitektur kota yang menyatukan terminal, sekolah, dan pasar di satu daerah. Itu kata teman-teman saya.  Aaah, betapa saya kangen road trip! Kangen travelling! The beauty of travelling is.. there’s no past to regret or future to face. You just live at the moment, happy at the moment, with your travelling partners. Enjoy every piece of God’s work of art. Damn, I’m so thrilled!

Sampai di Sukabumi sekitar jam setengah 10, kami pun mengunjungi RSUD Sekarwangi, Sukabumi. Ini pertama kalinya saya mengunjungi RSUD internship lain selain RSUD Majalengka, RSUD Patrol, atau RSUD Arjawinangun yang saya sudah bosan. Haha. RSUD ini cukup besar, walau saya tidak terlalu menjelajahinya. Tapi IGD-nya pengaap dan gelaap. Di sini ada dokter Omar sedang sibuk bekerja di IGD dan kami diminta menunggunya. Dan saya, Anita, dan Demy tiba – tiba mendapati diri kami dikurung di kamar jaga dokter IGD oleh dokter Omar! Yang sangat tidak nyaman + ada kamar mandinya + sempit (maaf, anak Sekarwangi!). Si Demy dengan odong dan muka datarnya, sehabis dari kamar mandi, tanpa sadar me-ngeset-kan kakinya yg bersandal di sejadah shalat karena dikira keset kaki!

Tampilan depan RSUD Sekarwangi..

Kami pun mengaso di rumah jejaka – jejaka Sekarwangi sembari merampok apa yang ada di rumah itu. Nonton film, masak indomie, minum kopi, dan tidur. Kami harus menunggu Omar selesai jaga dan rombongan dari Soreang sampai di Sekarwangi. Jam 1 siang, berangkatlah rombongan bahagia ini menuju… Pelabuhan Ratu! Eng ing eng. Perjalanan ke kampung Nyi Roro Kidul diwarnai jalan berkelok – kelok dan jalan rusak. Saya jadi agak teringat dengan jalanan Cikamurang. Hampir 1,5 jam, akhirnya kami sampaai di RSUD Palabuhan Ratu. Di situ kami disambut oleh dokter Nicko yang sedang bertugas di IGD. Berbeda dengan dokter Omar yang terlihat sibuk di Sukabumi, dokter Nicko sepertinya sedang magabut karena beliau bersedia mengantarkan kami ke pelosok – pelosok RSUD (Hehe). RSUD Palabuhan Ratu mungkin RSUD terluas yang saya lihat sejauh ini. Cukup asri, sepi, dan bersih. Ada CT Scan tapi tidak ada pemeriksaan elektrolit. Yeaay, Cideres masih adaa!

Depan RSUD Palabuhan Ratu..

Lobby (alah, lobby) RSUD Palabuhan Ratu

Setelah diajak makan sore di rumah makan Padang (yess, Padang, haha) deket RSUD Pel. Ratu, kami melanjutkan destinasi kami  menuju… jreng jeng jeng! Jampang Kulon! RSUD yang terjauh dan tersulit ditempuh dibanding RSUD lain. Dan bener aja loh. Jalannya berkelok – kelok super liar. Rumah penduduk sangat jarang bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Lubang-lubang jalannya juga tersebar, banyaaak sekali dan parah kedalamannya. Beuuh, jalan menuju Pantai Klayar mah nggak ada apa – apanya. Kalau kata Tommie, “ini lubang mah bukan gara – gara dilewatin truk. Dicangkul ini mah.”

Setelah menjalani 2 jam penuh lubang, kelok – kelok, dan rasa mual (untung gak ada yang muntah), kami menemukan juga RSUD Jampang Kulon! Gileee, aku anak Cideres, wilayah timur Jawa Barat, bisa sampai jugaa di sini! Ujung Jawa Barat bagian Barat yang paling susah dicapai. Kami sampai Jampang Kulon tepat saat azan Maghrib berkumandang.

Depan RSUD Jampang Kulon..

Kami pun menyambangi kamar kost dr. Reza Istiantho alias Reju, dokter internship Jampang Kulon yang kebetulan tidak sedang bertugas. Seharusnya dialah yang menjadi guide kami di Jampang Kulon dan Ujung Genteng. Betapa bahagianya ya, setelah melewati jalan menuju Jampang yang super gila itu, kami menemukan teman seangkatan kami di sana. Oia, katanya dokter AjiP di sana idola lo! Bahkan sampai ada yang pingsan gitu deh, huahaha.

Dokter Reju yang terkenal se-Jampang..

Dokter Reju pun mengajak kami ke tempat penginapan kami yang sudah dipesankan oleh dokter AjiP (thanks, Ji!).  Penginapaan… shit, I forgot the name. Minahasa, Mihasa, Mahesa, or something, whatever. Penginapan bertembok warna-warni.

Tujuan kami selanjutnya adalah.. melihat penyu bertelur! Objek wisata itu bisa dicari di Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng. Tepat jam 7 malam, kami pun berangkat ke pantai tersebut, karena memang penyu bertelur di waktu malam. Daaaan, setelah mengira tidak ada yang mengalahkan jeleknya jalan menuju Jampang Kulon dari Pelabuhan Ratu, ternyata kami salaah! Perjalanan menuju Ujung Genteng dari Jampang Kulon, sangat jelek bro! Lubangnya bukan dicangkul lagi, tapi sisa – sisa jejak kaki Dinosaurus.

Dokter Reju, guide kami yang sangat tidak meyakinkan!

“Ju? Beneran ini jalannya?”

“Taaauuu… Mana gw inget, udah lupa gw!”

Dengan kondisi jalan sudah masuk – masuk jauh ke dalam, gelap gulita, kami semua hanya bergantung pada dokter Reju, ‘supposed-to-be-guide’ kami. Dan dokter satu ini duma sering bilang “taaaaaau!”

Atau suatu kesempatan saat kami sudah berkendara masuk jauuh ke dalam jalanan yang gelap, dia bilang: “eh, ini bangunan gak pernah gw lihat nih! Pilihannya cuma 2, gedungnya baru dibangun atau kita salah jalan!”

Lalu di lain kesempatan, tahu – tahu dia bilang.. “eh bener nih jalannya! Gw inget tempat ini. Dulu gw pernah kencing di sini…” Ngik ngok, manusia ajaib.

Setelah melewati  jalanan jejak kaki dinosaurus dan sedikit rumah penduduk yang amat minim penduduk, dan gelap gulita karena mati listrik, kami secara random menemukan pertigaan yang sangaat ramai, dan ternyata kami sudah di pinggir laut. Ternyata memang pertigaan itu adalah tempat nelayan dan warga berkumpul. Kami pun memilih jalan ke kanan menurut dokter Reju. Kami harus menemukan penginapan Hexa untuk menyewa motor. Untuk menuju pantai Pangumbahan tempat penyu bertelur, kami harus menyewa motor. Dari penginapan Hexa tersebut, masih sekitar 6 km lagi. Dan jalan menuju ke sana akan lebih mudah jika ditempuh dengan motor. Jalan tersebut akan tertutup jika air laut pasang, oleh karena itu naik mobil akan sulit karena harus tergantung jadwal (duileeh, jadwaal) pasang surut air laut. Sementara jika naik motor, jika air pasang, ada jalan alternatif lain yang bisa ditempuh motor tapi tidak mobil.

Kami pun menyewa belasan motor untuk membawa kami. Satu motor disewa Rp. 40.000,- untuk mengantar, menunggu, dan menjemput. Jika ingin membawa sendiri motornya, ya sok.

Well, sebagai orang yang melankolis, I did enjoy the ride. Jalan yg berpasir dikelilingi semak belukar, gelap, hanya diterangi penerangan motor, udara sejuk dingin bercampur bau laut, suara ombak berkejaran yang entah datang dari mana saking gelapnya, bersama orang lokal yang bercerita mengenai tradisi kehidupan mereka di sana. Never thought I’m gonna spend one of my sat nite this way. Setelah berkendara motor beriringan sekitar 6 km, sampailah kami di sebuah lapangan yang dipagari, di sekelilingnya terdapat rumah – rumah, dan banyak motor yang sudah terparkir.  Keadaan masih gelap gulita karena listrik yang tak kunjung menyala. Rumah – rumah itu ternyata adalah rumah penduduk yang bekerja di sana.

Berburu penyu bertelur di pantai Pangumbahan, Ujung Genteng

Setelah menunggu berapa belas menit, seorang guide membawa kami menyusuri sebuah gang yang ternyata berujung ke.. laut lepas. Yep, pantai Pangumbahan. Keadaan sangat gelap gulita, saya hanya bisa melihat dengan kekuatan sel batang mata saya, ombak – ombak besar berkejaran. Sebuah pantai dengan garis yang luas. Ombak putih berbusa yang besar. Pantai selatan, memang. Sepertinya pantai ini indah. Sayang juga ya sudah jam 10 malam saat itu.

Kami pun diajak sang guide itu untuk berjalan menyusuri bibir pantai, mencari penyu yang bertelur. Keadaan yang cukup sulit,mengingat kami tidak boleh menyalakan senter karena takut mengganggu penyu yang sedang bertelur. Kami berpegangan tangan, dan harus berjalan cepat agar tidak tertinggal rombongan. Dan jalannya jauh aja, loh.

Setelah berjalan hampir setengah jam dalam gelap dan banyak tersandung benda pantai, akhirnya sang guide membelokkan jalannya menjauhi bibir pantai. Dan yang saya lihat kemudian sungguh pertama kali saya lihat. Sebuah lubang pasir berkedalaman sekitar setengah meter dan di dalamnya sebuah ‘benda’ bulat bertekstur keras dan hidup aka penyu, sedang menggali lubang dengan mementahkan pasir-pasir dengan ‘kaki’nya. Sungguh pemandangan yang ajaib. Sesekali penyu itu menengok ke arah kami, namun tetap cuek menggali lubang. Lucu sekali. Kami tidak boleh menggunakan blitz kamera karena takut mengganggu penyu tersebut.

Penyu yang sedang bertelur, memuntahkan pasir dengan kakinya..

Setelah berapa lama dia di sana, tiba – tiba saya dikejutkan lagi. Tiba – tiba penyu tersebut merangkak keluar lubang dengan cepat, memutar balik dan menyeret badannya ke laut. Ternyata penyu berjalan lebih cepat dari yang saya kira. Haha. Dan dia berjalan mengikuti arah cahaya (mungkin cahaya dari mercusuar) menuju laut, jadi jika ingin memotret dengan blitz memotret lah dari arah depan laut supaya dia tetap berjalan ke arah laut dan tidak jadi bingung.

Penyu yang pulang ke laut, mengikuti cahaya..

Sekali bertelur, penyu bisa bertelur hingga 100 butir. Warna telurnya putih mengkilat. Ada hal menarik yang dikatakan guide kami saat seorang teman bertanya: “Siapa predator terbesar telur – telur penyu?” sang guide menjawab, “ya manusia.”

Telur - telur penyu itu..

Penyu – penyu itu ternyata sudah dilabeli oleh warga sana. Jadi jika ia kembali, warga akan mengenalinya karena rata – rata mereka akan bertelur di tempat yang sama.

Kami pun kembali menuju tempat motor – motor diparkir dan kembali ke penginapan Hexa. Sepanjang perjalanan naik motor, saya banyak berbicara dengan ojek motor saya. Ternyata beberapa hari lagi disitu akan diadakan perayaan hari Nelayan lho. Karena itu, pertigaan yang tadi saya lewati sangat ramai. Oia, si ojek motor ternyata punya saudara di Depok dan dia biasa berkendara naik motor Ujung Genteng – Depok dengan motor! Blaaaah. Jalan sejelek dan seberkelok umat seperti itu, ditempuh dengan motor. Membayangkan saja udah sulit terbayangkan.

Kembali ke penginapan Hexa sudah jam 12 malam. Semua sudah lapar, kayaknya haha. Tapi Jampang Kulon jam segitu sudah sangat mati. Karena itu semua sangatt bersyukur melihat warung indomie yang masih buka. Satu – satunya. Jauh – jauh ke Jampang yang dimakan indomie pula. Setengah 2 pagi. Haha.

Esoknya, kami baru berangkat kembali jam 9 pagi. Tujuan kali ini adalah.. curug Cikaso! Saya pertama mengetahui ini dari teman saya, Ical, dokter Jampang. Fotonya memang menggiurkan. Ternyata curug di daerah situ ada 3, namun curug Cikaso-lah yang lebih bisa dicapai dan sudah dibuka untuk umum.

Dan.. sepeti biasa dokter Reju tiap ditanya, “Ju benar ini jalannya?” “Taaau, mana gw inget!”

Tapi saya cukup yakin dia sebenarnya yakin itu jalannya. Karena dia sama sekali tidak panik dan tidak pernah menyarankan untuk bertanya pada penduduk. Mungkin karena tidak ada penduduk untuk ditanya juga, haha.

Sesampainya di curug Cikaso, kami harus naik kapal menyusuri sungai sekitar 10 menit menuju air terjun. Satu perahu disewa Rp. 80.000,- untuk sekitar 10 orang. Dan kami harus menyewa 2 perahu. Sungai Cikaso (eh bener gak ya namanya Cikaso? Main ngasih nama aja gw) berwarna coklat.

Menyeberang menuju curug Cikaso..

Sungai Cikaso (?) menuju curug Cikaso..

Tiba – tiba sungai tersebut bercabang kecil ke kanan air sungai berubah mendadak menjadi berwarna hijau turquoise. Perahu pun diparkir tidak berapa jauh, dan saya sudah bisa mendengar deras air yang tumpah. Curug Cikaso membentang dengan anggun, terdiri dari 3 aliran air yang jatuh. Ketinggian sekitar gedung 4 -5 lantai mungkin ya. Di sekelilingnya banyak tetumbuhan hijau, batu – batu berlumut menjulang dengan berbagai ketinggian. Indah sekali. Tapi yang paling saya sukai tentu saja adalah warna air hijau turquoisenya yang cantik. Ternyata 3 aliran air itu tidak mengalir terus – menerus. Menurut tukang perahu, bisa saja hanya 2 jika musim kemarau.

Batas antara sungai Cikaso dan cabang yang berujung di Curug Cikaso

Air Terjun Cikaso

Air hijau turquoise

Read the rest of this entry »

Just found it in my draft. Note ini tertanggal 14 Maret 2010. Masih ingat cerita ini nggak, teman-teman kelompok IPD saya… Hahaha… 

Akhirnya saya punya kesempatan melakukan apapun di rumah, secara random. Apapun yang saya mau. Dulunya saya sangat ceroboh. Setelah baca ini, anda bakal tahu kalau saya benar – benar sudah menjadi orang yang terdisorganisasi, lebih parah daripada ceroboh.

Selama seminggu terakhir, 8 – 12 Maret 2010, saya menjalani stase Penyakit Dalam di RS Kanker Dharmais. Untuk saya yang rumahnya cuma sepelemparan batu dari Kampus saya di Salemba, stase sana jelas cukup jauh. Dan karena lebih efektif dan cepat, saya memilih naik bus kota 213 dari dekat rumah saya. Dan ada beberapa pengalaman yang memalukan sekaligus pelajaran yang saya dapat. Saya tidak pernah merasa begitu berterima kasih pada seorang kondektur.

Oke. Pada hari-3 saya naik bus, biasanya bareng teman saya, Ani, seorang anak kost. Namun hari itu saya naik sendirian. Hari itu saya lupa kalau Ani sudah SMS saya malam sebelumnya, dia gak akan berangkat bareng saya paginya. Namun karena saya mengantuk gila pas bacanya, saya lupa 200%. Bahkan saya menunggui Ani di halte hingga 3 bus 213 lewat, sembari kesal sendiri ‘Ani kok lama banget sih? Udah lewat 3 bus. Gak ngasih kabar lagi. Bodohnya, saya baru sadar pagi itu HP saya ketinggalan, jadi gak bisa menghubungi Ani. Ceroboh nomor 1.

Untunglah bisikan itu datang. Oh ya, Ani kan gak ikut. Ah stupid. Akhirnya saya naik bus 213 yang lewat. Penuh, saya berdiri. Ketika berusaha merogoh tas untuk mencari dompet (Pelajaran 1. Siapkan uang sebelum naik. Saya selalu lupa melakukan ini), ternyata dompet gak ada! Damn. Ceroboh nomor 2. Abang kondektur sempet menggerincing-gerincing uang koin, minta bayaran. Namun karena saya terlihat sibuk sendiri cari dompet, dia mundur lagi ke belakang.

Saya panik. Saya memang belum terlalu jauh dari rumah, tapi saya sudah di dalam bus, lupa dompet, dan sendirian. Oke, how could i be so stupid, leaving my ultimate wallet at home without saving any money in case for emergency in my bag…

Nekad saya mendatangi abang Konde (kondektur maksudnya), dan berbicara agak takut-takut dengan muka melas,

“Bang saya turun aja ya… Saya lupa bawa dompet…” Dan jawaban berikutnya sang abang Konde sangat mengejutkan saya…

“Oh ya udah naik aja. Mau kemana emang, Neng?”

“Ke Harapan Kita, bang…” Maksud saya, saya akan turun di halte situ, nanti tinggal jalan sedikit ke RS Dharmais.

“Ya udah, gapapa. Naik aja.”

Saya nyaris tidak mempercayai telinga saya. Akhirnya saya naik bus tanpa bayar. Dan saat saya mau turun,

abang konde bertanya lagi ke saya. “Neng masih lanjut kendaraan apa berhenti di sini?”

“Oh di sini kok bang tujuannya. Gak lanjut lagi.”

“Oh kirain. Kasihan kan gak bawa dompet kalau mau lanjut lagi…” katanya sambil tertawa.

Saya hanya tertawa dan berterima kasih sekali lagi. Mungkin kalau saya bilang saya lanjut kendaraan lagi, saya dikasih ongkos. Whatever lah ya.

Read the rest of this entry »

Setelah sampai kapal, Jamal membuka penawaran “take dive” bagi yg ingin. Saya dpt giliran kedua. Dgn kode jari 123, Jamal menarik tanganku, membawaku ke dasar laut, dgn tujuan menyentuh soft coral. Buseett, kagak sedekat kelihatannya. Rasanya tangan saya sudah menggapai2, kok gak kesentuh2 juga ya. Yang ada saya malah meronta2 minta naik, kehabisan napas. Hahaha. Percobaan kedua, saya berhasil! Waw, rasanya lembut2 geli gimanaa gitu. Setelah itu, sembari menuju kapal, saya berkali2 minta take dive. =]

Mau Nyelem
Bintang Laut Biru
Dalam laut perairan Pulau Air
Masih tempat yg sama…

Setelah semua snorkeling, take dive, foto2, dan pipis tersembunyi selesai dilakukan, kami diangkut lagi naik kapal. Saya ingin ke soft coral! Tempat ini rujukan di berbagai blog yg saya baca. Sudah sampai sini, masa gak ke sana??? Tapi kata Jamal, arus sedang kencang. Berbahaya kalau mau snorkeling. Saya memohon stengah memaksa pada Jamal. Saya bilang, kalau segitunya, yg snorkeling gantian aja, terus pegangan tangan. Uti ikut memanasi dengan bilang: gila kalo gak ke situ, secara Uti udah pernah ke sana. Jamal akhirnya mengalah dengan memutuskan utk pergi ke sana melihat keadaan terlebih dulu.

Soft coral terletak di belakang Pulau Panggang, tetangga pulau Pramuka. Katanya dinamain Pulau Panggang karena dulu waktu jaman penjajahan atau apa gitu, warga satu pulau itu pernah dibakar hidup2. Ngeri abis. Jamal nyebur duluan utk melihat kondisi laut. Stelah beberapa saat turun, dia naik lagi, dan mengultimatum: “Oke, bagi 2. Enam org pertama ikut Komar, enam kedua nunggu dulu.” Komar tuh pemandu snorkeling satu lagi. Entah kenapa sebagian anak awalnya menyangka namanya Marco… Okelah. Enam orang pertama, Ande, Dindi, Bima, Anna, Ginal, Darius terjun. Kami enam orang sisa, duduk merana menatapi mereka sembari menyanyi2 lagu mbah Surip yg di-English-kan paksa. Carry you… wherever u go…

Read the rest of this entry »

Semua ini berawal dari ide si manusia laut tapi bernama Bintang beberapa bulan lalu. Ide ini awalnya adalah pemanasan sebelum backpacking ke Pulau Komodo dan Danau Kelimutu yg sudah direncanakannya gila2an. Tapi karena harus menunggu jadwal mata selesai, terbengkalai, dan akhirnya sudah terlalu dekat dengan jadwal trip Pulau Komodo, dia mengultimatum saya seenaknya, menyuruh saya memproduksi acara ini sendirian tanpa bantuannya karena saya terus menagih dan memaksa. Dengan tawa angkuh dia bertanya, “Kamu bisa gak ngerjain sendiri?”

Saya pun mulai surfing internet dengan hati dongkol. Saya melakukannya saat itu bukan karena saya ingin, tapi karena saya tidak terima ditantang dan diremehkan. Setelah beberapa jam surfing internet, ketetapan hati saya berubah menjadi saya ingin pergi. Haha. Ternyata menyenangkan sekali mencari info2 di internet, menemukan berbagai jalur dan harga2, mencari yg termurah. Seriously, saya ingin teman2 saya merasakan perjalanan ini. Saya mengajak Uti, dan dia menyambut dan mendukung dengan sangat antusias. Kalau gak ada Uti, rencana ini belum tentu terealisasikan. Hehe.

Setelah mengupload itinerary perjalanan di FB, survey yg nekad, mengumpulkan orang2, terkumpullah 12 orang luar biasa ini. Selain saya dan Uti, ada Widi, Novi, Anna, Ginal, Ande, Dindi, Damba, Darius, Caca, dan Bima. Setelah melakukan perhitungan segila dan secermat mungkin, didapatkan tiap orang cuma akan menghabiskan kurang lebih Rp. 220.000. Tapi saya tdk memberitahu mereka ttg itu, dan saya hanya meminta utk membawa uang minimal Rp. 300.000. Hehe. Dalam jarkom, tertulis Rabu 12 Agustus, kumpul jam setengah 5 pagi depan lobby FKUI. Sbenarnya itu dimaksudkan utk yg ngaret maksimal sampe jam 5. Karena itu, beribu-ribu maaaaaff yg sebesar2nya untuk Dindi, Ande, dan Bima yang datang on time jam stengah 5!!! =]

Tepat jam 5.17 pagi kami berangkat dengan 2 mobil Caca. Rencana busway batal karena mobil Caca bisa dipakai dengan ganti uang bensin yg sepadan dengan total budget pergi! Yg penting pilih yg termurah, atau termudah. Nah ini ada dua2nya. Hajar! Rp.80.000 utk 2 mobil. Itu aja udah kemahalan, kata Caca. Jam 5.43 pagi kami sudah sampai Muara Angke. Wow, hanya stengah jam! Bandingkan dgn 75 menit dgn busway + angkot (Rp. 6000/org, 12 org jadi Rp. 72.000). Tapi karena kepagian, kami krik krik garing lalala lilili senangnya hati ini menunggu di atas kapal. Muara Angke yg bau ikan, becek, penuh orang, membuat penantian kami terasa lamaaa. Utk naik kapal, kita harus daftar di sana, dikasih kayak karcis gitu utk diserahkan di atas kapal. Rp. 30.000/org, uda termasuk asuransi dari Jasa Raharja Rp. 2000/org (bo, asuransi 2000 perak, asuransi apaan yak?? Mungkin maksudnya biaya asuransi kali ya). Kapalnya baru berangkat jam 7.25, sial. Tapi gapapa lah, takut dapet duduk di bawah kalo dateng telat (di bawah, goyangannya lebih aduhai terasa). Kalau naik speed boat dari Marina Ancol, harganya Rp.185.000.

Hampir 2,5 jam di kapal. Tak ada yg bisa dilakukan selain menatap laut. Laut, yang selalu membuat orang jadi melankolis, padahal yg laut lakukan hanyalah bergelombang dan berdesir. Tuh liat kan, gini aja udah melankolis gw. Untung gelombang tidak besar, dan kami duduk di lantai atas yg tertutup terpal, jadi tidak panas dan tidak mabuk laut. Beberapa memilih tidur, beberapa memilih ngobrol, beberapa memilih bengong. Mati gaya.

Pagi Buta di Muara Angke (semua masih tersenyum ceria)
Suasana Pelabuhan Muara Angke
…akhirnya tidur setelah gak tau mau ngapain lagi… menunggu 2,5 jam perjalanan…

Jam 10-an kami sampai di dermaga Pulau Pramuka. Dermaga yg sangat simpel, dengan beberapa kapal kayu berwarna-warni tertambat. Terlihat RSUD Pulau Pramuka, gedungnya masih baru dan bagus, tapi kata Jamal, yang baru berfungsi baru IGD-nya. Gubrak. Kalau ada yg sakit parah, harus dirujuk ke Jakarta. Ke mana hayo tepatnya? RSCM bu, gak jauh2. Anyway, kami disambut Jamal, pemuda pulau Pramuka yang sudah berjasa membantu survey gila saya dan Uti, dan sekarang menjadi pemandu kami. Setelah berfoto ria depan dermaga, kami dibawa menuju tempat homestay kami. Saya dan Uti memaksa Jamal melewati jalan yg sama menuju homestay seperti saat survey kemarin. Tujuannnya, biar teman2 juga merasakan perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama yg kita rasakan saat pertama kali melihat homestay pinggir laut itu. Tapi kayaknya pada biasa aja. Gak ada yg bilang, “Wow! Bagus banget!” atau “Keren banget!” atau “Maknyoss!” Yang ada malah, “Duuh, langsung kamar mandi ya gw. Kebelet pipiss…”

Laut dari salah satu dermaga P. Pramuka
TKW ya mbak? (ini baru sampai dermaga P. Pramuka)
Warnanya…
Selamat Datang!

Homestay kami adalah penemuan terbesar kami. Homestay milik Pak Sandy ini terletak di pinggir laut, terpencil, gak banyak orang lalu lalang, pantai yg jernih dan dangkal, di seberang lautnya terlihat Pulau Panggang, ada lapangan pasir utk bermain2 (dan di tengahnya ada 4 meja makan dan 8 kursi). Di dalamnya ada 8 kasur, 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur (tapi tanpa kompor dan alat makan , hehe. Kalo mau masak atau gelas piring, bawa sendiri atau pinjem dapur Pak Sandy, gratis), TV, dan AC. Tenang saja, listrik baru nyala jam 4 sore. Gak ngaruh mau nyalain AC sekarang. Harga aslinya Rp. 400.000/malam. Tapi karena melacur minta harga mahasiswa dan sedikit lobi Jamal, harganya jadi Rp. 300.000/malam. Jadi Rp. 25.000/org. Yeey! Harga yg murah utk homestay sinting itu.

Read the rest of this entry »

Sabtu, 1 Agustus 2009, saya dan Uti melakukan survey demi memuaskan keingintahuan teman2 lebih lanjut mengenai perjalanan ke P.Seribu. Tujuan kami mengukur waktu dan kendaraan yg dibutuhkan ke pelabuhan Muara Angke. Hanya sampai Muara Angke.

Rencana kami sampai di halte Busway jam 5 pagi. Tapi dasar kami baru berangkat pk 5.45. Setelah mampir beli rokok dan korek untuk sahabat saya, kami naik busway di halte Salemba jam 5.54. Jam 6 pas kami sampai di halte Senen dan menyeberang skywalk untuk naik busway jurusan Harmoni/Kalideres. Ada 2 tujuan Busway di situ: ke Kalideres langsung, atau transit Harmoni terus naik ke Kalideres. Ternyata kedua jurusan itu RAMAI sekali (padahal hari Sabtu). Kami naik busway sedapatnya, gak tau jurusannya apa. Ternyata kami harus transit di Harmoni. Sesampai di halte Harmoni jam 6.25, kami pun BERLARI2 menuju halte terujung, berebut antrian terdepan, arah Kalideres. Jam 6.38 kami turun di halte Citraland dan naik angkot B 01 merah jurusan Muara Angke. Jadi teman2, kita benar2 GA BOLEH NGARET!! Rute busway + angkot adalah rute terstabil. Yg lain bus kota, kereta, lebih sulit dipercaya. Jadi butuh bgt kerjasama temen2 semua buat ontime…

Jam 7.10 pagi, kami diturunkan angkot persis di depan Dermaga Muara Angke. Segala bau, kotor, bangkai, membentuk sebuah keteraturan di situ. Siap2 pake sepatu dan kaos kaki agar bisa berjalan dengan aman menyusuri pasar ikan. Pas nyampe, ternyata ojek kapal ke P. Pramuka baru berangkat 10 menit lalu (dalam kondisi PENUH). Cuma beda 10 menit! Sekali lagi, JANGAN NGARET!! Yang tinggal hanyalah kapal (yang seharusnya juga ojek) tapi dicharter Marinir untuk ke P. Pramuka. Sekitar 30 penumpang yg ketinggalan ojek kapal berharap marinir2 itu baik hati memberikan mereka tumpangan, bahkan bersedia membayar lebih untuk bisa diangkut. Disana kami berkenalan dengan seseorang di antaranya yang sangat friendly, dia juga mau menyeberang. Ketika kami tanya namanya, dya menjawab, ” Yaqin.” “Hah? Yakin??” “Makanya, gw paling benci menyebut nama gw.”

Ada satu orang lagi yang kenalan dengan kami. Orang yang sangat berjasa sekali membuat perjalanan ini mendobrak kotak kami. Penampilannya persis preman pasar. Pak Tato, begitu dia dipanggil. Dialah nakhoda dari kapal yang dicharter ini. Namun saat kenal dengannya, ternyata dia sangatlah baik. Ternyata setiap hari, ojek kapal harus nyetor 3 juta. Karena itu, biasanya mereka menunggu sampai penumpangnya 80 – 100 orang. Karena itu, harganya variatif, antara 30-35 ribu. “Lo ada berapa orang?” “Cuma berdua! Kita kan cuma survey aja, berangkatnya sih masih minggu depan.” “Udah, ikut aja. Tapi bayar 100 ribu ya, haha.” “Yah, kita kan mahasiswa. Rencana kita cuma survey sampai sini aja. Lagian kita kere, nih. Makanya berangkatnya dari sini, bukan dari Ancol.” Dan dia bilang, “Nanggung amat, udah ikut aja. Lo masuk situ, sembunyi di sana.” “Tapi kita gak ada duit banyak!” “Udah, gampanglah… Duit mulu yg lo omongin, emang gw preman?” Kata beliau sambil nunjuk kabin nakhoda kapal yang kecil. “Tenang aja. Ntar gw bilang sama komandannya kalo lo berdua tuh keponakan gw.”

Then, we found ourselves was sitting right inside that small cabin, surrounded by about 70 marine soldier, looking at us like some rare animals at the zoo. Damn, we both are perfectly insane. “Kalo ketahuan, kita harus siap jual diri, Wit!” kata Uti. Kegilaan ini ditambah lagi oleh kata Pa Tato “belom tentu hari ini ada kapal balik dari P.Pramuka”. Tapi kami sudah mendapat jaminan dari teman baru kami si Yakin, “Kl ga ada kapal balik, lo nginep bareng kita2 aja, tapi makan bayar sendiri”, sinting..
Kapal yang kami tumpangi terbuat dari kayu (seluruhnya), dan berbunyi “klotok2” kl jalan, muat sampai desak2an sekitar 80-100 orang. Bayar biasanya 30 ribu. Kami pun berangkat jam 8 pagi. Dalam kabin nakhoda itu diisi 6 orang. Kami, pak Tato, dua putra P. Pramuka sebaya kami: Jamal dan Pe’i, dan teman Pak Tato bernama Pak Mansyur, tapi dipanggil Pak RW (krn ketua RW). Gila, tapi kayanya lebih gila lagi kalo kami gak ngambil kesempatan ini.

Kapal bergoyang aduhai mengikuti arus. Untung Pak Tato menyediakan life jacket dalam jumlah banyak, jadi kami merasa aman. Yang mabuk laut, bawa Antimo deh! Di dalam kabin kami banyak mengobrol dengan Jamal. Seorang pemuda lokal Pulau Pramuka yg punya passion tinggi memajukan Pulau Seribu. Di usia seumur kita (22), dia sudah tamat S1, kerja di Dinas Pariwisata Pulau Seribu, jadi guru renang di Senayan dan guru Paskibra di Pulau, serta punya usaha travel sendiri. Karena dia kenal semua orang di Pulau Pramuka, dia bisa mengusahakan charter kapal cuma jadi 200 ribu yg tadinya 300 ribu, sewa alat selam jadi 35 ribu dari 40 ribu, serta janji mengantarkan kami mengelilingi pulau untuk mencari homestay terbaik dengan harga dimurahin. Dan dia bilang, “Gw gak kepengen dibayar sama lo. Gw cuma mau orang2 Jakarta yg dateng ke P. Seribu, mendapat kesan terbaik selama di sana, dan orang2 itu bisa mendatangkan orang2 lain utk datang ke sini.” Such an amazing person, iya kan Ti? =]
Pak Tato pun sangat baik. Snack kue 1 box jatah Beliau, dikasih ke kita! Ada satu pembicaraan yang menggelitik, ketika saya melihat hanya laut di sekeliling dan saya bertanya, “Pak Tato, gimana caranya tau kalo ini jalan yg benar ke p.pramuka?” Dia terdiam sesaat lalu menjawab, “Dari ombak.” Luar biasa. Resah? Tidak perlu. Karena Pak Tato mempercayai ombak sejak berusia 17 tahun, dan ga pernah nyasar.

Ada juga Pak RW, yang mengajak kita makan di Keramba, sebuah restoran di tengah laut dekat Pulau Pramuka. Semua orang di situ sangat baik. Kami, bocah Jakarta, tidak terbiasa dengan kebaikan hati orang yg baru pertama kali ditemui, sehingga sempat menduga ada sesuatu di balik keramahan ini, Uti sempat resah mau diperkosa sama Pak RW. Maafkan kami, ya. Haha.
Perjalanan menempuh laut selama 2,5 jam, sampai sana jam 10.30. Dan Pak Tato gak mau dibayar sama sekali! Jamal mengajak kami ke rumahnya untuk istirahat sebentar. Dalam 15 menit, kamu sudah bisa mengelilingi pulau. Di mana2 ada dermaga, mangrove, dan laut biru. Di seberangnya terlihat Pulau Panggang, pulau terpadat di dunia, tempat Pak Tato tinggal. Terlihat juga Keramba Apung, restoran tengah laut tempat ayah Jamal bekerja. Jgn harap nonton TV kalo siang, listrik nyala baru jam 4 sore sampai jam 7 pagi.

Setelah dijamu sebentar di rumah Jamal, kami berkeliling mencari homestay. Rata2 cukup bagus. Dan rata2 kamar mandinya cuma 1. Oia, kita gak jadi pake wisma TNKS. Kenapa? Karena hal yg satu ini. Stelah beberapa saat jalan2, Jamal membawa kami ke ujung jalan aspal yang sudah tak berumah warga lagi. Kiri kanan tetumbuhan, ranting2 putus, gak ada kehidupan. Dan tiba2 muncul dua bangunan rumah di depan kami yg dipisahkan lapangan pasir, langsung menghadap hamparan laut. Gila, terpencil sekali! Dan rumah di kiri adalah homestay! Rumah di kanan? Yang punya homestay. Rumah itu bagus, bersih, ada 1 kamar, tapi di ruang tengahnya banyak kasur (total 8 kasur, kl mau namba extrabed @25ribu), 1 dapur, 1 kamar mandi WC duduk (foto dari Uti!). Tapi keterpencilannya, kesunyian, dan hamparan laut langsung di depannyalah yang bikin saya dan Uti jatuh hati saat itu juga. Oh iya, sama lapangan pasir untuk bakar2an ikan nantinya. Trust us, you’ll love it too.

Yang punya namanya Pak Sandy. Badan kekar, muka tentara. Tapi orangnya baik. Dia bilang, harganya 400 ribu/malam. Tapi karena kami mahasiswa, dan Jamal adalah bekas murid SMA Pak Sandy, akhirnya harganya jadi 300 ribu, sesuai budget! Kami berempat sempat berbincang2 sebentar di tengah lapangan pasir. Ada sebuah meja makan panjang. Kami bertanya, “apa gak bosan hidup begini?” dan dia menjawab mantap, “bosan banget.” Lalu Uti berkata pada Jamal, “Tadi kita ngobrol tentang apa yg sebenarnya dibutuhkan pulau ini. Ternyata bukan membangun hiburan untuk para turis, tapi justru hiburan untuk warganya sendiri.” Yeah, bayangkanlah tinggal di sebuah pulau hanya sebesar 995 km2, tanpa listrik siang hari, tanpa area2 hiburan, dan apa2 harus ke Jakarta.

Saat itu jam 12 siang, kami mengecek kapal balik di dermaga. Sejak pagi, berita simpang siur mengenai ada tidaknya kapal balik ke Jakarta siang ini. Bahkan Pak Tato pun tidak yakin. Ternyata kapalnya belum ada. Bagaimana jika benar2 tidak ada? Tenang, masih ingat si Yaqin di Muara Angke pagi tadi? Dia sudah menjamin kami nginap bereng rombongannya kl ga ada kapal balik. Haha, entah sudah ke berapa kalinya kami menggantung nasib kami di tangan2 orang yg baru kami kenal hari ini.

Tujuan kami berubah menjadi: makan!!

Sebuah kedai kecil menjadi tempat persinggahan kami. Kedai ini menjual beberapa jenis nasi goreng dan mi goreng, tidak lupa ada indomie aneka rasa. Harga nasi dan mi goreng berkisar 7-10 ribu, sementara minuman sekitar 2-3 ribu.Rasanya ya standar lah, namun saya dan Uti, sera bapak2 yang duduk di sebelah kami sepakat, nasi goreng di sini porsi kuli!! Di pulau ini terdapat bayak kedai serupa, ada juga yang menjual nasi padang, mie ayam, dengan harga terjangkau. Kalau mau yang lebih mewah, rasakanlah sensasi makan di restoran terapung tengah laut bernama Keramba dengan duit yang sedikit lebih banyak, 18 ribu untuk seporsi nasi goreng.

Setelah makan, akhirnya kapal balik pun tiba. Ternyata Jamal akan balik ke Jakarta, menemani ayahnya. Kami pun naik kapal. Angin bertiup kencang, ombak lebih kencang, kapal bergoyang lebih keras, dan kami malah duduk di atas kabin nakhoda tanpa life jacket! Sangat RISKAN kecebur ke laut. Sekali lagi, hal bodoh yg kami lakukan…Haha. Bye bye, see u there. SEKALI LAGI, TIDAK TERBATAS UTK YG DITAG, TAPI SIAPAPUN BOLEH IKUT…bilang gw atau uti aja, hehe.

Read the rest of this entry »

Sebeumnya, note ini adalah ajakan terbuka bagi seluruh penghuni ruang publik yang berminat merasakan desiran adrenalin di pembuluh darah! Tidak terbatas pada orang2 yang dikirimin note aja.. Sebarkan sebarkan sebarkan!!!

When: 12-13 Agustus, Rabu-kamis
Where: p.pramuka, p.semak daun, pulau sekitar

How:
1. kumpul di kampus jam SETENGAH 5 PAGI!! Berangkat jam 5 pag!!
2. naik busway ke halte citraland
3. naik angkot merah 01 ke mura angke
4. naik KAPAL NELAYAN dari PASAR IKAN muara angke ke pulau pramuka, perjalanan 2,5 jam

Note: kapal nelayan cm berangkat jam 7 PAGI dan 1 SIANG, kl ketinggalan jam 7 harus nunggu jam 1, jadi harus ON TIME
Dan kalo belom jam 7 tapi penumpangnya udah penuh, KAPAL LANGSUNG BERANGKAT. Jadi kita udah harus disana JAM 6 setidaknya

Bawalah LIFE JACKET, karena kita akan desak2an dan pastinya kapal nelayan ga ada life jacket.

Penginapan: kita bakal nginep di pulau pramuka. FYI, listrik di pulau ini hanya menyala dari JAM 4 SORE sampai JAM 7 PAGI. Jadi yg mau bawa hairdryer, coba dipikir lagi, hihihi.. ada beberapa option penginapan:
1. WISMA TNKS ada 2 tipe:
a. Muat 8 orang, harga 250rb (harga mahasiswa). Kalo nambah orang, bisa nambah extrabed @25rb. 1 kamar mandi, jadi cepet2an. layak, bersih, bagus
b.Muat sampai 20 orang, bentuknya barak. harga 400rb (harga mahasiswa), 4 kamar mandi, yang ada jambannya 2 kamar mandi. jadi bokernya ganti2an! layak, bersih, bagus, masuk rekomendasi majalah traveller!
2. Homestay: muat 15 orang, harga 400rb, 2 kamar mandi. 1 rumah sendiri buat kita! menghadap dermaga, bagus, bersih, layak.

Ngapain kita disana???:
1. di pulau pramuka kita bisa snorkling di Baleho (tempat pelatihan snorkling di tengah laut) dan snorkling di dermaga pinggir2 pantai. Di pulau ini juga ada penangkaran penyu dan kita bisa menanam mangrove.
2. di pulau semak daun kita snorkling di soft coral. tempat ini adalah REKOMENDASI SNORKLING DI BANYAK BLOG! Gw juga dah pernah kesana dan emang bagus cuy.. SANGAT MEMUASKAN.. Tempat ini masuk 16 besar tempat snorkling terindah di Indonesia!! Versi majalah Traveler..

Note: Kita akan menyewa kapal (yang ini kapalnya aman) yang bisa dipakai SEHARIAN bebas! Untuk mengunjungi pulau2 sekitar pulau pramuka. Contoh: p.semak daun untuk snorkling, pulau karya, pulau panggang ini tempat pemukiman penduduk (pulau dengan kepadatan penduduk terpadat di DUNIA!!) kalo mau beli ikan untuk bakar2an
Untuk snorkling, kita akan sewa alat lengkap beserta pemandu snorkling, 1 pemandu untuk 4-5 orang. Snorklingnya aman ko, pemandunya profesional.

Makan apa kita disana???:
Di sekitar penginapan ada nasi padang, nasi rames, atau bakso, silahkan pilih. itu untuk makan siang. malemnya, kita bakar ikan di pinggir dermaga, alat2nya disediakan disana oleh guide kita. kita cuma perlu membeli ikan sendiri di pulau panggang, caranya kita nyebrang dulu pake ojek kapal atau bisa sekalian pake kapal yang kita charter seharian itu, jarak p.pramuka dan p.panggang sangat dekat ko, keliatan gitu pulaunya dari pulau pramuka.
untuk sarapan hari ke-2 terserah, mau cari makan di luar, atau bawa makanan masing2 (susu, roti, energen). unutk makan siang hari ke-2 juga terserah, karena kita harus udah siap jam 12, kapal ke muara angke berangkat jam 1 siang.. itu kapal terakhir, kalo ketnggalan, harus nunggu jam 7 pagi besoknya..

Pulang kita akan menempuh rute yang sama (kata wita, yang belom dia cari lagi dengan benar)

Q&A:
1. Adakah yang mau mengantar sampe muara angke?? Yang punya supir gitu. atau ada yg mau bawa mobil sendiri ga? nitip mobil di pos RW muara angke, bayar 40rb untuk 2 hari. Jadi pulangnya juga enak.
2. Adakah yang bisa mengusahakan life jacket atau pelampung?? buat safety aja, kalo ga mau juga gapapa, kl baca di blog2 mereka juga ga pake sih..
3. kan kita harus udah berangkat jam 5 pagi.. ada yang mau merelakan rumah, kosan, atau apartemennya diinepin malem sebelumnya?? Ayooo wita, dindi, anna, widi, hehehe…

Estimasi biaya per orang (untuk 8 orang minimal), SANGAT DIHARAPKAN LEBIH DARI 8 ORANG, biar lebih seruuu dan lebih murah, hehe..:

Busway pulang-pergi/PP: 5.500
Angkot PP: 10.000
Kapal nelayan PP: 70.000
Masuk p.pramuka: 4.500
Penginapan: 35-50.000 (tergantung milih yg mana, dan berapa orang yg ikut)
Charter kapal keliling: 40.000
Snorkling (alat dan pemandu): 55.000
Masuk p.semak daun: 1.500
Ke pulau lain pake ojek kapal PP: 6.000
makan: 50.000 untuk 2 hari
Tour guide: 6.500
______________________________________+
TOTAL Rp. 284.000,- per orang

Catatan: dibuletin jad Rp.300.000,- untuk biaya tak terduga. Kalo mau bawa lebih, lebih bagus, karena disana ga ada ATM. Rincian ini sengaja dimahal2in dikiiiit.. Misalnya makan, penginapan, dan biaya masuk pulau, jadi tenang aja..
Penginapan harus dibooking MAX 2 HARI SEBELUMYA, jadi tolong kepastian ikut atau tidaknya MAX RABU MINGGU DEPAN TGL 5 AGUSTUS 2009 KE UTI ATAU WITA.
Diharapkan KOMITMEN kalo udah bilang mau ikut, karena estimasi biaya sangat tergantung jumah pasti yg ikut, soalnya ini perjalanan backpacking, kere, hehe..

ADIOS!! Read the rest of this entry »

Malang sebuah kota besar. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali saya ke Malang. Kami juga tidak punya waktu untuk mengunjungi kebun apel-nya. Karena kami punya 2 wisata besar di sini, Pulau Sempu dan Gunung Bromo.

Mencapai Pulau Sempu, harus menyeberang dari Pantai Sendang Biru, menyewa kapal dan bayar guide. Pantai ini dicapai sekitar 2 jam arah selatan Malang. Di dalam Pulau Sempu, terdapat sebuah laguna. Laguna itu terasa seperti private beach. Serius, Thailand kalah deh.  Sebuah ‘kolam raksasa’ yang terhubung oleh sebuah lubang besar dengan samudera. Ditemboki oleh rerimbunan pohon hijau. Airnya tentu saja air laut, dasarnya pasir. Ikan hampir nggak ada. Lubang itu bisa kita lihat, secara periodik memuntahkan sejumlah air samudra  dengan deras. Draaasshh!! Wisatawan dilarang mendekati lubang itu. Di sana di’wajib’kan berenang. Tentu saja, setelah tracking hampir 2 jam yang cukup melelahkan, melewati hutan rimbun yang becek sekali. Selama tracking, terlihat siapa yang penolong sejati, siapa yang cuek beybeh, siapa yang ngambekan, siapa yang mandiri. Hahaha. Hanya dalam tracking 2 jam, asli seseorang bisa terlihat. Saya jadi teringat kata-kata Uti dan saya sebelum perjalanan ini. Kita sepakat, “bahwa setelah perjalanan ini, semua nggak akan pernah terlihat sama lagi…”

Menunggu kapal di Pantai Sendang Biru. Komposisi warna yang lucu ya.
Gerbang masuk lintasan tracking di Pulau Sempu (jiah, gerbang banget)

Karena pulau Sempu sangat menyerap tenaga, kami memutuskan untuk tidak melihat sunrise di gunung Bromo. Jadi kami akan berangkat ke Bromo jam 7 pagi saja, agar lebih fit. Well, apa mau dikata. Setiap hari, Ari, selaku koordinator harian trip ini selalu membangunkan kami tepat waktu dengan suaranya. Tapi kali ini dia juga tewas. Walhasil, kami berangkat jam 9 pagi. Hahaha. Oke, mau ngomong apa lagi soal Bromo. Pegunungan terindah ketiga di dunia versi entah siapa lupa. Setelah gunung Elbrus dan… mm, lupa lagi.

Pegunungan Bromo juga sangat menyerap tenaga dengan menanjak bukit dan naik 250 anak tangga untuk mencapai kawah. Gila ya, segitu saja. Fisik kami payah. Ralat, maksudnya saya. Saya jadi terbayang anggota termuda ekspedisi 7 Puncak Dunia Koran Kompas adalah seorang gadis kelahiran 88! Dan dia sudah sampai puncak Jayawijaya, Kilimanjaro, dan Elbrus. Hebat sekali, fisiknya luar biasa.

Ketika kami makan, muncullah naluri binatang kami. Kami makan di warung sate Tante Tolly yang terletak sebelah gerbang masuk Bromo. Para pelayan itu kerepotan melayani kami yang nggak berhenti berceloteh memanggil, bahkan beberapa teman saya langsung ke dapur buat ngambil nasi sendiri. Barbar. Biasanya kami makan tidak pernah lebih dari 150.000. Kali ini membengkak menjadi 360.000!! Yah, nggak apa-apalah sekali-kali… *konseptor pasrah, rekapitulasinya kacau.

Segara Anakan dan Samudra Hindia. Lihat perbedaan warna dan ketenangannya?

Menurut Dimas, teman dekat Icha, saudara Rara yang rumahnya kami tumpangi untuk menginap di Malang, di daerah Probolinggo ada tempat rafting yang seru. Saya memang sekelebat sepertinya pernah membaca, tapi mau gimana lagi. Haha. Cobalah search juga. Kalau mau yang dekat, ada Arus Liar di daerah Citarik, Sukabumi.

Sepanjang perjalanan Bromo-Surabaya, anak-anak innova 1 yang jarang tidur, yang tiada habisnya tertawa saling meledek mantan pun, kali ini semua tertidur kelelahan. Sampai Ari yang menyetir ditinggal sendiri. Ari yang sendirian pun berusaha mencari teman bangun. Pilihannya jatuh pada Bima yang ternyata juga sudah sangat mengantuk. Akhirnya Ari pun ngalor ngidul mengajak Bima ngobrol tentang hipertensi, obat-obatan, dan klasifikasi JNC VII. Segala IPD-lah. Berharap Bima terus terbangun jika diajak bicara topik kesukaannya. Dan… tidak berhasil. Bima hanya menjawab “Haah… Hmm.. Aah..” dan tidur lagi.

Sayang sekali lumpur Porong kami lewati saat waktu sudah 18.30 malam. Jadi nggak kelihatan apa-apa. Surabaya, kami norak sekali rasanya melihat kota besar lagi, Pizza Hut, dan gedung tinggi. Sempat ingin ke gang Dolly, akhirnya urung karena saat itu malam minggu. Yaah.

Dan rasanya tidak percaya ketika jam 11 malam itu saya sedang makan kwetiaw goreng di sebuah resto di Surabaya Town Square. Saya terbangun pagi di Malang, seharian mendaki gunung Bromo, dan malamnya saya makan di sebuah mall besar Surabaya. Geleng-geleng kepala. Hidup benar-benar penuh lompatan.

Komposisi warna dengan muka boyband ini lumayan pas. Sayang ekspresi natural Ginal bikin rusak foto keseluruhan -_-
Padang Pasir Bromo. Editan yg kacrut, maklum diedit jam 2 pagi..

Keesokan harinya, kami menyebrangi jembatan Suramadu. Saya jadi emosional. Saya mengenang zaman masih menjadi koass obsgin 6 bulan yang lalu, ketika jadwal kuliah sangat lowong dan dosen jarang masuk. Saat itulah di pojok nista (baca: pojok belakang Ruang dr. Hanifa), saya dan teman-teman lesehan nggak jelas sembari ngobrol soal trip ini. Saat saya lempar tantangan Suramadu, semua antusias. Namanya juga anak muda, selalu cari alternatif. Mencoba keluar dari pola liburan yang biasa, yang akan lewat begitu saja dan hanya jadi ‘salah satu liburan lainnya’. Mencoba menjadi legenda. Mencoba menghidupkan tren yang lebih segar. Saya pun masih belajar. Setiap rencana yang saya buat, selalu ada pelajaran berharga di dalamnya. Wawasan baru. Bukankah memang begitu peraturannya? “Pelajari dulu peraturannya, baru dilanggar.”

Kalap belanja batik Madura dan mencoba nasi Petis (yap, namanya agak gimanaa gitu yaa) khas pulau Madura, maka kami kembali dari Surabaya. Sayang sekali kita tidak bisa berhenti di jembatan dengan pemandangan yang laut itu, karena terancam denda 500.000. Akhirnya cuma bisa jalan pelan aja deh. Tapi ada juga tuh mobil lain yang tetep bandel berhenti dan foto. Grr. Tau gitu… Ya, tapi 500.000 nggak masuk budget biaya tak terduga sih. Itu sih biaya tak terduga tak terkira tak mampu bayar.

Warung-sesuatu-saya-lupa-namanya-bisa-baca-sendiri-tuh di Madura. Tempat kami mencoba nasi petis
Ngaso pagi sambil seruput kopi di warung pinggiran. Sarapan khas supir truk. Lihat cara minum demy..

Perjalanan diteruskan ke Semarang. Setelah sempat mampir di Kudus, untuk mencoba soto Kudus langsung di aslinya. Blah, soto Kerbau itu ternyata enak banget, sama pindangnya juga enak! Tapi saya pernah dibilang, kalau saya mah semua makanan juga dibilang enak. Orang saya doyan makan banget. Hm, damn it’s true.

Akhirnya stop-by terakhir sebelum Jakarta: Semarang. Karena sampai sudah malam, maka tujuan kami Cuma 3: bandeng Djuana, tur malam Lawang Sewu, sama toko Oen. Toko Oen yang di Malang tidak sempat kami kunjungi karena keburu tutup. Nah di Lawang Sewu ini sebenarnya saya tidak terlalu menikmati. Saya penakut banget lho! Nonton film horor atau film thriller, saya akan bersembunyi di balik bahu orang, saya gak suka debaran jantung saya. Saya langsung merasa sesak sejak masuk ke dalam sana. Maklum, pernah kena Panic Disorder. Karena itu, saya nggak terlalu konsen mendengar cerita-cerita guide, walaupun saya sangat suka pelajaran Sejarah! Banyak yang bikin saya nggak konsen-lah di tempat itu. Hmm, karena saya menulis paragraf ini jam setengah 2 pagi, dan saya cuma sendirian, maka saya nggak mau bercerita banyak! Hehehe.

Hari terakhir perjalanan ini. Pagi di Semarang. Tahukah anda bahwa nasi kucing adalah salah satu sarapan paling sedap di dunia? Porsi sedikit, nambah bisa seabrek-abrek. Dan anda masih nggak akan mengeluarkan uang lebih dari sepuluh ribu rupiah. Saya cuma menghabiskan 4500 setelah nambah ini itu. Pemegang rekor adalah Vini. Tiga ribu rupiah. Mendoan harganya cuma 500 rupiah? Dan semua lauk yang bisa ditambah, seperti tahu dan bakwan, paling Cuma 500 – 1000 rupiah saja. Dari mana si abang sayang itu mendapat untung? Rasanya jadi tetap sedap aja, biarpun makan sebelah tempat sampah. Oia catat, no one’s got diarrhea. Yeayy ;D

Hidup kami memang nomaden, penuh lompatan. Bangun pagi di kota satu dan tidur malam di kota lainnya. Jarak tiap kota 7-9 jam. Enam kota dalam 8 hari. Bagaimana saya tidak ingin menyembah satu persatu teman-teman saya yang menyetir? Mungkin pada bertanya ya, apa enaknya jalan begitu? Sebagian besar habis di jalan? Apa tidak lelah? Apa banyak yang bisa dinikmati?

Sebenarnya balik lagi sih  ke esensi apa yang diinginkan dari perjalanan ini. Jiwa jalan seperti apa yang diharapkan? Yang saya inginkan adalah perjalanan ini, spot-spot yang saya lihat adalah hadiah yang memang sudah seharusnya saya dapatkan. Saya memang serakah, semuanya ingin saya lihat dan semua teman jadi ikut rencana saya. Tapi sejak awal, saya dan Uti tidak pernah memutuskan semua sendiri. Dan itu pentingnya mengadakan beberapa kali rapat untuk membahas itinerary. Untuk diskusi. Karena saya dan Uti bukan pemilik wisata travel atau pun tour guide, dan teman-teman saya bukan peserta travel. Saya tidak mau jadi seperti itu. Kita semua harus setingkat di sini. Kenikmatan kita harus sama. Dan tour guide, Ari cukuplah jadi tour guide. Wawasan travel-nya luas. Haha.

That’s it.. Kami pun pulang menuju kampus tercinta, tempat ini dimulai dan ini berakhir. Inilah 8 hari untuk selamanya. Saat dewasa nanti, saat saya bertemu teman-teman sejawat dokter ini, saya akan bilang ke anak saya, “Ini lho.. Tante Anu/Om Itu, yang dulu keliling Jawa sama mama!” Hehe. Joged-joged.

Selama perjalanan pulang, tidak banyak yang bisa dilihat Pantura (tidak seperti Pansel, pantai selatan-red), sehingga satu persatu orang bergantian tertidur. Saya sendiri sulit tidur, saya memandangi ombak-ombak tenang pantai utara. Terkenang Klayar yang indah, monster dengan rupa yang menawan. Saat saya menyadari bahwa mimpi saya hampir setahun berakhir bahagia, mengenang kembali proses perencanaannya, saya pun memandang teman-teman saya yang tertidur pulas bertelekan ke jendela. Dan tiba-tiba dari ipod yang terpasang di radio itu, menyanyilah Chris Martin dengan indahnya…

I wanna live life and never be cruel…

I wanna live life and be good to you…

And I wanna fly and never come down…

And live my life and have friends around…

We never change, do we?

No, no… We never learn, do we?

So I wanna live in a wooden house…

where making more friends would be easy….

 

Oh, and I don’t have a soul to save…

Yes, and I sin every single day…

 

We never change, do we?

We never learn, do we?

 

See you when we hit the road again next year! Sumatra, maybe? =)

Next part: the recapitulation..

Daerah selatan Jawa memiliki jalur yang masih liar, jalannya selalu berkelok-kelok dan gelap. Rumah-rumah berjarak puluhan meter. Bagaimana caranya mereka arisan ya? Tapi kalian tidak akan pernah bosan. Indah di mana-mana. Bukit-bukit menjulang, jurang-jurang beralaskan sengkedan, sungai-sungai lebar yang kering dengan batu-batu alam yang besar. Hutan dengan pohon-pohon entah apa namanya, tapi Ari selalu tahu namanya.

Jalur yang mengepung Pacitan adalah juaranya. Jalur di sini kelok-keloknya paling berbahaya. Namun pemandangannya paling luar biasa indah. Suatu ketika saya melihat dari ketinggian, laut dengan ombaknya yang besar yang dikitari perbukitan hijau. Indah. Yak coba hitung, sudah berapa kali saya menyebut “luar biasa” dan “indah”?

Contoh pemandangan sepanjang jalan selatan Jawa. Foto ini diambil di sekitar Pacitan. Sang Bapak berdiri di pinggir jalan..
Dari Dieng ke Pacitan, kami melewati Yogyakarta. Saya adalah penggemar berat gudeg Yu Djum. Karena itu, tanpa pikir panjang saya membawa teman-teman ke rumah makan asli Yu Djum di kawasan UGM. Bodohnya saya, kita ini kan semua dari berbagai suku di Indonesia ya. Oia, dan Cina. Saya jadi nggak ngeh kalo ternyata si Trio Padang itu, Demy, Nicko, Omar ternyata nggak suka gudeg Yu Djum. Yang suka makanan manis kan orang Jawa. Mereka diam-diam menutup rapi makanannya dengan daun pisang seolah-olah makanannya habis, padahal nggak habis. Saya nggak tahu sampai diceritain di perjalanan. Aaaaa… Maafkan saya main mutusin sendiri!! Oia, tau nggak alasan mereka kenapa nggak suka? Jawab mereka: “nasi kok manis.”
Di Pacitan, kami ke Pantai Klayar. 35 km dari Pacitan arah Solo. Kalian harus tahu bagaimana jalan menuju pantai ini. Bukit lembah naik turun, berkelok, jalannya luar biasa sempit, cuma muat 1 mobil, belum diaspal, kiri kanan perbukitan hutan. Bagaimana mungkin sebuah pantai berada di ujungnya? Kami sempat takut salah jalan.
Ketika akhirnya kami keluar dari bukit hutan yang mengungkungi kami, terlihat deburan ombak terbesar dan tergarang yang pernah saya lihat. Karang-karang tinggi menjulang tersebar menjadi arena bermain ombak-ombak yang beranjak dewasa. Pantai yang luar biasa sepi, mistis, galak, namun sendu. Seolah kesepian. Tidak ada orang. Pasir yang bersih. Rasanya ingin segera turun, berlari ke pantai, menangis, dan sembah sujud pada sang Maha Alam, pelukis yang luar biasa. Travelling orgasm. Atau apalah, kalau ada namanya.
Klayar Beach. What can I say..
Ada satu kejadian. Teman kami, Ari, memfoto salah satu sudut tempat tidur sang Ratu Selatan (baca: sebuah lubang di suatu karang agak ke tengah laut) dengan kameranya, mengakibatkan sang Ratu geram lalu menerjangnya dengan ombak besar dari balik karang yang hampir menyeret dirinya menjadi tawanan laut. Ombak itu membawa lari kameranya, hanya kameranya, yang herannya sudah teresleting rapi dalam tas. Meninggalkan Ari dalam wajah kebingungan, shock, berpikir dirinya bisa saja sudah jadi santapan ikan hiu. Dia selamat, hanya kameranya hilang. Cheer up, boy! Dan ratu yang hebat itu, masih berusaha memanggil Ari. Tak tanggung-tanggung, dia juga memanggil Bima dan Ginal untuk ikut melihat lubang karang yang sama. Saya memandang miris mereka, panggilan sang Ratu begitu menggoda walaupun mereka sudah melihat apa yang terjadi pada Ari. Larangan saya tidak dihiraukan. Siulan yang sangat kencang dari penduduk setempat juga tak dihiraukan mereka. Saya nggak mengerti bagaimana warga sana bisa bersiul sangat besar dari tempat yang jauh. Mungkin sudah terlatih memanggil wisatawan yang bandel. Seperti teman-teman saya ini.
Dan benar saja, saat mereka di sana, ombak yang lebih besar datang tanpa permisi, sang bos terakhir. Berasal dari balik karang-karang yang menjulang tinggi jadi kami tidak akan bisa menduga kedatangannya. Menghilangkan mereka bertiga dari pandangan kami. Saya mematung. Saya kira mereka hanyut. Hancurlah saya. Well, ternyata mereka bertiga bersembunyi di sudut mati di balik karang-karang. Terima kasih ya Allah. Mereka kembali.
See the tiny man over there? Yap, that’s Omar, sitting. Brave guy. Insane.
Sumber air satu-satunya adalah sebuah sumur tanpa katrol sama sekali. Yap, tentu saja, cara mengambilnya adalah dengan membuang ember yang sudah terikat tali. Ternyata nggak gampang euy. Kami pun belajar mengambil air sumur. Caranya adalah dengan memiringkan ember itu dengan sudut yang sempurna, menghempaskannya dengan kencang ke sumur, lalu dengan tali diatur sedemikian rupa agar air yang terambil sebanyak mungkin. Percobaan pertama: isinya cacing cuy. Grr.
Saat akan pergi dari sini, saya mengajak Uti untuk berpegangan tangan, merentangkan tangan, menghadap laut, berteriak “woohoo” lalu membungkuk sopan ala putri mahkota, memberi hormat pada sang Ratu Pantai Selatan akan kerajaannya yang mempesona.  Dan memintakan maaf untuk teman-teman kami. Oia, di Pacitan, selain ada Pantai Klayar dan Goa Gong yang bagus, masih ada Goa Tabuhan dan Pantai Nampu lho. Goa Gong dikatakan sebagai salah satu gua terindah di Asia Tenggara. Stalagtitenya besar-besar, warna kuning keemasan, dengan butir-butir kristal tersebar. Masuk ke dalam perut bumi sekitar 300 meter. Tenang, sudah dibangun lampu-lampu dan ada kipas angin. Kalian tidak akan mati kehabisan oksigen.
Menuju ke dasar gua, 300 meter.
Di dasar gua.
Bersiaplah sewaktu-waktu dihujam. Haha, tenang saja, mereka kokoh sekali, beratus tahun terpancang di sana..
Sepanjang perjalanan, yang kami obrolkan banyak. Terutama ledekan seputar mantan. Kalau ada plang toko, iklan rokok, lagu, bunyi klakson, bunyi mesin, langit malam, semua selalu saja disambung-sambungkan ke nama-nama terkait. Entah siapa yang mulai, yang jelas bukan saya. -_- Maafkan kami untuk pihak-pihak terkait. Hehe. Oh iya, kecuali Bima! Karena Kak Astri nggak akan pernah jadi mantannya. Layaknya pepatah yang kami sepakati: Bagai Bima Merindukan Astri.
Sepanjang perjalanan, Rara dan Bima adalah sasaran ejekan kami. Rara sangat bawel, nggak bisa direm. Tapi Nicko peredam Rara yang pas. Kata Nicko, “Kalau Rara mulai ngomong ngalor ngidul nggak jelas, langsung aja alihin dengan ngajak dia ngomong tentang karir, agama, dan MASA DEPAN.”
Ada sebutan yang terkenal kami untuk saling memanggil. Yaitu: “Chyyyyyyy…..” asal kata dari “cuy” yang dipelesetkan. Ngomongnya harus monyong dan muncrat. Well, lebai. Dan Rara paling benci jika diteriakkan “Chyyyyy” di telinganya. Makhluk satu ini juga amat pede. Suatu ketika, dia bisa berkata: “Subhanallah, gimana kalo Rara aja yang bawa mobil? Rara baru bisa bawa mobil loh. Kebetulan Rara baru mau ambil SIM.” Di jalanan pedalaman selatan Jawa yang berkelok2, gelap, naik turun, sebelahnya jurang. Wow, Ra. Nice try. Makasih tapi maaf. Kita belum lulus UKDI.
Kalau Bima? Blah. Tentu saja ejekannya seputar seorang kakak 2003, idolanya yang super menawan. Dia nggak akan bisa berkata apa-apa. Semua angkuhnya, filosofinya, dan keyakinannya runtuh, kalau menyangkut wanita ini. Dia bisa bersuara serius, lalu tiba-tiba disodorkan kata “AS**i”, langsung suaranya jadi manja dan super imut. Jijik. Dan Bima pasrah kita taro duduk di belakang, sendirian, hanya berteman barang-barang yang ditumpuk sembarangan setinggi dirinya. Kadang kami temukan dia termenung sendirian. Kalau dia tertidur atau mengantuk, kami akan berteriak kencang2 di telinganya: “BIM!! NGANTUK BIM??!! TIDUR LAH BIM KALO NGANTUK!!” Dan dia akan terbangun terkaget-kaget, lalu nggak bisa tidur lagi.
Sepanjang perjalanan, sepanjang itulah innova 1 dan innova 2 beriringan. Innova 2 sering sebal sama innova 1. Katanya sih, karena innova 1 egois, suka lupa diri nyalip2 dan memacu kecepatan, meninggalkan innova 1. Padahal supir di innova 2 adalah trio Padang yang terbiasa berkendara di lajur Sumatera yang gila. Dan jalur selatan Jawa juga gila. Sampai terjadilah satu hal yang sangat bodoh.
Saya lupa kita sedang dalam perjalanan ke mana. Jalan macet. Dan layaknya supir-supir rese yang terlatih di Jakarta, innova 1 & 2 pun menyalip dan memotong2 antrian memakai jalur yang lawan arah. Saat itu supir innova 1 Ari dan innova 2 Nicko. Sampai suatu saat, tiba2 ada truk dari arah berlawanan. Kami tidak lihat. Ari pun segera memaksa memotong antrian. Nggak dikasih sih, tapi dia berhasil memasukkan badan mobil sedikit, jadi aman. Tapi Nicko tidak dapat, secara mereka pas di belakang kami. Dan kami innova 1 berteriak2, “anjrit! Innova 2 nggak dapet!” Kami menyaksikan innova 2 pergi dengan pasrah dari belakang kami dan menghadapi lajur berlawanan arah sendirian. Goodbye, innova 2.
Well, apa yang terjadi? Akhirnya mereka berhadapan 1-on-1 dengan sebuah TRUK dari lawan arah. Jadi tontonan orang. Pikir mereka: Astaga, dasar mobil Jakarta. Dua mobil itu saling terdiam. Kami innova 1 gaduh gelisah melihatnya. Tiba2 lampu sen kanan mobil innova 2 menyala. Mereka pun berbelok ke kanan. Ke bahu jalan. BETUL SEKALI. MEREKA MENYALIP MOBIL BERLAWANAN ARAH DARI BAHU JALAN PADA JALUR BERLAWANAN ARAH. Bahu jalan yang berbatu2. Meledaklah tawa kami di innova 1. Huahahaha. Seperti kata Nicko setelah itu: “inilah nyetir ter-alay sepanjang hidup gw.”

Menurut Uti, beginilah keadaan dalam innova 2 selepas mereka kembali dari menyalip truk itu:

 

Penghuni Innova 2:” Ko, itu pom bensin! Masuk aja dulu ke pom bensin!”

Innova 2 menenangkan diri sebentar di sana, lalu kembali ke jalan. Mereka semua tergugu dan terdiam sekian lama. Tidak ada yang bicara.

Nicko: “anjing…” (pelan).

Diam lagi.

Nicko: “anjing…”  (masih pelan).

Masih diam.

Nicko: “anjing. Gw pengen teriak nih…”

Penghuni innova 2: “Gapapa Ko, kalau mau teriak, teriak aja…”

Nicko: “ANJIIINNGGGG!!!!! ANJIIIINGGG!!!!! AAAAAAGGHH….!!!! AAAGGHHH…!!!!” (Berteriak-teriak kencang, sembari gaduh gelisah, mengguncang-guncang setir, lalu terengah-engah sendirian).

Innova 2: TERTAWA MELEDAK. “Gobloook lo, Kooo!!!!”

Semoga benar begitu inti ceritanya. Sekian sekelumit cerita tentang kegilaan kami di jalan.

Di Blitar (dlm perjalanan ke Malang dari Pacitan), terdapat makam dan museum Bung Karno. Terkenal karena lukisan bung Karnonya yang berdetak di bagian dadanya. Waw, itu benar lho. Lukisan itu dijauhkan dari tembok belakangnya supaya kita bisa lihat ke belakangnya, dan benar sih nggak ada apa-apa. Mungkin karena itu juga nggak boleh difoto. Saya sekali, museumnya kurang menarik. Hanya kumpulan foto, lukisan, barang-barang bung Karno. Lukisan dan fotonya banyak yang diulang-ulang. Seolah museum itu dibuat terburu-buru. Padahal yang saya ingin temukan adalah sisi historis, pengetahuan mengenai perjalanan hidupnya, serta ingin menemukan rasa segan terhadap sang Proklamator itu.

Museum Bung Karno. Muka-muka odong menunggu sesi potret.
Di sana juga ada uang jaman dulu milik bung Karno yang konon, akan melengkung sendiri di telapak tangan orang-orang tertentu. Uti dan Vini berkesempatan mencobanya. Dan mereka melengkung! Uangnya maksudnya. Saat kita semua sedang bengong menunggu uang itu melengkung, Nicko bicara polos. “Dua belas orang berkesempatan masuk koran.” Saya heran dan bertanya, “Kenapa, Ko?” “Iya, kantongin aja duitnya, terus kita kabur.”
to be continued…