A travelling note
Waktu: 30 Mei – 1 Juni 2011
Tempat: Jakarta – Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Jampang Kulon – Ujung Genteng – Pantai Pangumbahan – Curug Cikaso
Anggota: Wita, Uti, Anita, Demy, Rara, Nicko, Omar, Tommie, Ari, Vini, Ginal, Ika, Uti Nilam, Nana, Haryo, Akbar
Semua bermula dari ajakan teman saya Anita Suryani, demi merayakan hari ulang tahunnya. Ajakan pertamanya adalah ke kebun Stroberi dan Teluk Salabintana di daerah Sukabumi. Akhirnya jadwalnya jadi begini nih: Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Jampang Kulon – Ujung Genteng – Salabintana. Dalam 2 hari 1 malam. Setelah berbagai kerumitan mengenai cara berangkat, maka berangkatlah… jeng, jeng, 15 orang!
Saya, Anita, Demy, Uti, dan Akbar (pacar Uti) berangkat dari pagi ke Sukabumi, menjemput Omar yang harus jaga IGD pagi sampai jam 12 siang. Sementara Ika, Tommie, Ari, dan Haryo (pacar Vini) menjemput Vini di Soreang dahulu, baru ke Sukabumi. Ratna dan Rara pergi ke Sukabumi naik bus. Uti Nilam, Ginal, Omar, menunggu di Sukabumi.
Jam 6 pagi hari Sabtu, berangkatlah kami ke Sukabumi, diiringi canda tawa gosip seputar internship. Perjalanan di Sukabumi cukup lancar berkat jalan tikus yang dikasihtau Omar. Namun, Sukabumi macett di daerah Cibadak. Bodoh banget deh arsitektur kota yang menyatukan terminal, sekolah, dan pasar di satu daerah. Itu kata teman-teman saya. Aaah, betapa saya kangen road trip! Kangen travelling! The beauty of travelling is.. there’s no past to regret or future to face. You just live at the moment, happy at the moment, with your travelling partners. Enjoy every piece of God’s work of art. Damn, I’m so thrilled!
Sampai di Sukabumi sekitar jam setengah 10, kami pun mengunjungi RSUD Sekarwangi, Sukabumi. Ini pertama kalinya saya mengunjungi RSUD internship lain selain RSUD Majalengka, RSUD Patrol, atau RSUD Arjawinangun yang saya sudah bosan. Haha. RSUD ini cukup besar, walau saya tidak terlalu menjelajahinya. Tapi IGD-nya pengaap dan gelaap. Di sini ada dokter Omar sedang sibuk bekerja di IGD dan kami diminta menunggunya. Dan saya, Anita, dan Demy tiba – tiba mendapati diri kami dikurung di kamar jaga dokter IGD oleh dokter Omar! Yang sangat tidak nyaman + ada kamar mandinya + sempit (maaf, anak Sekarwangi!). Si Demy dengan odong dan muka datarnya, sehabis dari kamar mandi, tanpa sadar me-ngeset-kan kakinya yg bersandal di sejadah shalat karena dikira keset kaki!

Tampilan depan RSUD Sekarwangi..
Kami pun mengaso di rumah jejaka – jejaka Sekarwangi sembari merampok apa yang ada di rumah itu. Nonton film, masak indomie, minum kopi, dan tidur. Kami harus menunggu Omar selesai jaga dan rombongan dari Soreang sampai di Sekarwangi. Jam 1 siang, berangkatlah rombongan bahagia ini menuju… Pelabuhan Ratu! Eng ing eng. Perjalanan ke kampung Nyi Roro Kidul diwarnai jalan berkelok – kelok dan jalan rusak. Saya jadi agak teringat dengan jalanan Cikamurang. Hampir 1,5 jam, akhirnya kami sampaai di RSUD Palabuhan Ratu. Di situ kami disambut oleh dokter Nicko yang sedang bertugas di IGD. Berbeda dengan dokter Omar yang terlihat sibuk di Sukabumi, dokter Nicko sepertinya sedang magabut karena beliau bersedia mengantarkan kami ke pelosok – pelosok RSUD (Hehe). RSUD Palabuhan Ratu mungkin RSUD terluas yang saya lihat sejauh ini. Cukup asri, sepi, dan bersih. Ada CT Scan tapi tidak ada pemeriksaan elektrolit. Yeaay, Cideres masih adaa!

Depan RSUD Palabuhan Ratu..

Lobby (alah, lobby) RSUD Palabuhan Ratu
Setelah diajak makan sore di rumah makan Padang (yess, Padang, haha) deket RSUD Pel. Ratu, kami melanjutkan destinasi kami menuju… jreng jeng jeng! Jampang Kulon! RSUD yang terjauh dan tersulit ditempuh dibanding RSUD lain. Dan bener aja loh. Jalannya berkelok – kelok super liar. Rumah penduduk sangat jarang bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Lubang-lubang jalannya juga tersebar, banyaaak sekali dan parah kedalamannya. Beuuh, jalan menuju Pantai Klayar mah nggak ada apa – apanya. Kalau kata Tommie, “ini lubang mah bukan gara – gara dilewatin truk. Dicangkul ini mah.”
Setelah menjalani 2 jam penuh lubang, kelok – kelok, dan rasa mual (untung gak ada yang muntah), kami menemukan juga RSUD Jampang Kulon! Gileee, aku anak Cideres, wilayah timur Jawa Barat, bisa sampai jugaa di sini! Ujung Jawa Barat bagian Barat yang paling susah dicapai. Kami sampai Jampang Kulon tepat saat azan Maghrib berkumandang.

Depan RSUD Jampang Kulon..
Kami pun menyambangi kamar kost dr. Reza Istiantho alias Reju, dokter internship Jampang Kulon yang kebetulan tidak sedang bertugas. Seharusnya dialah yang menjadi guide kami di Jampang Kulon dan Ujung Genteng. Betapa bahagianya ya, setelah melewati jalan menuju Jampang yang super gila itu, kami menemukan teman seangkatan kami di sana. Oia, katanya dokter AjiP di sana idola lo! Bahkan sampai ada yang pingsan gitu deh, huahaha.

Dokter Reju yang terkenal se-Jampang..
Dokter Reju pun mengajak kami ke tempat penginapan kami yang sudah dipesankan oleh dokter AjiP (thanks, Ji!). Penginapaan… shit, I forgot the name. Minahasa, Mihasa, Mahesa, or something, whatever. Penginapan bertembok warna-warni.
Tujuan kami selanjutnya adalah.. melihat penyu bertelur! Objek wisata itu bisa dicari di Pantai Pangumbahan, Ujung Genteng. Tepat jam 7 malam, kami pun berangkat ke pantai tersebut, karena memang penyu bertelur di waktu malam. Daaaan, setelah mengira tidak ada yang mengalahkan jeleknya jalan menuju Jampang Kulon dari Pelabuhan Ratu, ternyata kami salaah! Perjalanan menuju Ujung Genteng dari Jampang Kulon, sangat jelek bro! Lubangnya bukan dicangkul lagi, tapi sisa – sisa jejak kaki Dinosaurus.
Dokter Reju, guide kami yang sangat tidak meyakinkan!
“Ju? Beneran ini jalannya?”
“Taaauuu… Mana gw inget, udah lupa gw!”
Dengan kondisi jalan sudah masuk – masuk jauh ke dalam, gelap gulita, kami semua hanya bergantung pada dokter Reju, ‘supposed-to-be-guide’ kami. Dan dokter satu ini duma sering bilang “taaaaaau!”
Atau suatu kesempatan saat kami sudah berkendara masuk jauuh ke dalam jalanan yang gelap, dia bilang: “eh, ini bangunan gak pernah gw lihat nih! Pilihannya cuma 2, gedungnya baru dibangun atau kita salah jalan!”
Lalu di lain kesempatan, tahu – tahu dia bilang.. “eh bener nih jalannya! Gw inget tempat ini. Dulu gw pernah kencing di sini…” Ngik ngok, manusia ajaib.
Setelah melewati jalanan jejak kaki dinosaurus dan sedikit rumah penduduk yang amat minim penduduk, dan gelap gulita karena mati listrik, kami secara random menemukan pertigaan yang sangaat ramai, dan ternyata kami sudah di pinggir laut. Ternyata memang pertigaan itu adalah tempat nelayan dan warga berkumpul. Kami pun memilih jalan ke kanan menurut dokter Reju. Kami harus menemukan penginapan Hexa untuk menyewa motor. Untuk menuju pantai Pangumbahan tempat penyu bertelur, kami harus menyewa motor. Dari penginapan Hexa tersebut, masih sekitar 6 km lagi. Dan jalan menuju ke sana akan lebih mudah jika ditempuh dengan motor. Jalan tersebut akan tertutup jika air laut pasang, oleh karena itu naik mobil akan sulit karena harus tergantung jadwal (duileeh, jadwaal) pasang surut air laut. Sementara jika naik motor, jika air pasang, ada jalan alternatif lain yang bisa ditempuh motor tapi tidak mobil.
Kami pun menyewa belasan motor untuk membawa kami. Satu motor disewa Rp. 40.000,- untuk mengantar, menunggu, dan menjemput. Jika ingin membawa sendiri motornya, ya sok.
Well, sebagai orang yang melankolis, I did enjoy the ride. Jalan yg berpasir dikelilingi semak belukar, gelap, hanya diterangi penerangan motor, udara sejuk dingin bercampur bau laut, suara ombak berkejaran yang entah datang dari mana saking gelapnya, bersama orang lokal yang bercerita mengenai tradisi kehidupan mereka di sana. Never thought I’m gonna spend one of my sat nite this way. Setelah berkendara motor beriringan sekitar 6 km, sampailah kami di sebuah lapangan yang dipagari, di sekelilingnya terdapat rumah – rumah, dan banyak motor yang sudah terparkir. Keadaan masih gelap gulita karena listrik yang tak kunjung menyala. Rumah – rumah itu ternyata adalah rumah penduduk yang bekerja di sana.

Berburu penyu bertelur di pantai Pangumbahan, Ujung Genteng
Setelah menunggu berapa belas menit, seorang guide membawa kami menyusuri sebuah gang yang ternyata berujung ke.. laut lepas. Yep, pantai Pangumbahan. Keadaan sangat gelap gulita, saya hanya bisa melihat dengan kekuatan sel batang mata saya, ombak – ombak besar berkejaran. Sebuah pantai dengan garis yang luas. Ombak putih berbusa yang besar. Pantai selatan, memang. Sepertinya pantai ini indah. Sayang juga ya sudah jam 10 malam saat itu.
Kami pun diajak sang guide itu untuk berjalan menyusuri bibir pantai, mencari penyu yang bertelur. Keadaan yang cukup sulit,mengingat kami tidak boleh menyalakan senter karena takut mengganggu penyu yang sedang bertelur. Kami berpegangan tangan, dan harus berjalan cepat agar tidak tertinggal rombongan. Dan jalannya jauh aja, loh.
Setelah berjalan hampir setengah jam dalam gelap dan banyak tersandung benda pantai, akhirnya sang guide membelokkan jalannya menjauhi bibir pantai. Dan yang saya lihat kemudian sungguh pertama kali saya lihat. Sebuah lubang pasir berkedalaman sekitar setengah meter dan di dalamnya sebuah ‘benda’ bulat bertekstur keras dan hidup aka penyu, sedang menggali lubang dengan mementahkan pasir-pasir dengan ‘kaki’nya. Sungguh pemandangan yang ajaib. Sesekali penyu itu menengok ke arah kami, namun tetap cuek menggali lubang. Lucu sekali. Kami tidak boleh menggunakan blitz kamera karena takut mengganggu penyu tersebut.

Penyu yang sedang bertelur, memuntahkan pasir dengan kakinya..
Setelah berapa lama dia di sana, tiba – tiba saya dikejutkan lagi. Tiba – tiba penyu tersebut merangkak keluar lubang dengan cepat, memutar balik dan menyeret badannya ke laut. Ternyata penyu berjalan lebih cepat dari yang saya kira. Haha. Dan dia berjalan mengikuti arah cahaya (mungkin cahaya dari mercusuar) menuju laut, jadi jika ingin memotret dengan blitz memotret lah dari arah depan laut supaya dia tetap berjalan ke arah laut dan tidak jadi bingung.

Penyu yang pulang ke laut, mengikuti cahaya..
Sekali bertelur, penyu bisa bertelur hingga 100 butir. Warna telurnya putih mengkilat. Ada hal menarik yang dikatakan guide kami saat seorang teman bertanya: “Siapa predator terbesar telur – telur penyu?” sang guide menjawab, “ya manusia.”

Telur - telur penyu itu..
Penyu – penyu itu ternyata sudah dilabeli oleh warga sana. Jadi jika ia kembali, warga akan mengenalinya karena rata – rata mereka akan bertelur di tempat yang sama.
Kami pun kembali menuju tempat motor – motor diparkir dan kembali ke penginapan Hexa. Sepanjang perjalanan naik motor, saya banyak berbicara dengan ojek motor saya. Ternyata beberapa hari lagi disitu akan diadakan perayaan hari Nelayan lho. Karena itu, pertigaan yang tadi saya lewati sangat ramai. Oia, si ojek motor ternyata punya saudara di Depok dan dia biasa berkendara naik motor Ujung Genteng – Depok dengan motor! Blaaaah. Jalan sejelek dan seberkelok umat seperti itu, ditempuh dengan motor. Membayangkan saja udah sulit terbayangkan.
Kembali ke penginapan Hexa sudah jam 12 malam. Semua sudah lapar, kayaknya haha. Tapi Jampang Kulon jam segitu sudah sangat mati. Karena itu semua sangatt bersyukur melihat warung indomie yang masih buka. Satu – satunya. Jauh – jauh ke Jampang yang dimakan indomie pula. Setengah 2 pagi. Haha.
Esoknya, kami baru berangkat kembali jam 9 pagi. Tujuan kali ini adalah.. curug Cikaso! Saya pertama mengetahui ini dari teman saya, Ical, dokter Jampang. Fotonya memang menggiurkan. Ternyata curug di daerah situ ada 3, namun curug Cikaso-lah yang lebih bisa dicapai dan sudah dibuka untuk umum.
Dan.. sepeti biasa dokter Reju tiap ditanya, “Ju benar ini jalannya?” “Taaau, mana gw inget!”
Tapi saya cukup yakin dia sebenarnya yakin itu jalannya. Karena dia sama sekali tidak panik dan tidak pernah menyarankan untuk bertanya pada penduduk. Mungkin karena tidak ada penduduk untuk ditanya juga, haha.
Sesampainya di curug Cikaso, kami harus naik kapal menyusuri sungai sekitar 10 menit menuju air terjun. Satu perahu disewa Rp. 80.000,- untuk sekitar 10 orang. Dan kami harus menyewa 2 perahu. Sungai Cikaso (eh bener gak ya namanya Cikaso? Main ngasih nama aja gw) berwarna coklat.

Menyeberang menuju curug Cikaso..

Sungai Cikaso (?) menuju curug Cikaso..
Tiba – tiba sungai tersebut bercabang kecil ke kanan air sungai berubah mendadak menjadi berwarna hijau turquoise. Perahu pun diparkir tidak berapa jauh, dan saya sudah bisa mendengar deras air yang tumpah. Curug Cikaso membentang dengan anggun, terdiri dari 3 aliran air yang jatuh. Ketinggian sekitar gedung 4 -5 lantai mungkin ya. Di sekelilingnya banyak tetumbuhan hijau, batu – batu berlumut menjulang dengan berbagai ketinggian. Indah sekali. Tapi yang paling saya sukai tentu saja adalah warna air hijau turquoisenya yang cantik. Ternyata 3 aliran air itu tidak mengalir terus – menerus. Menurut tukang perahu, bisa saja hanya 2 jika musim kemarau.

Batas antara sungai Cikaso dan cabang yang berujung di Curug Cikaso

Air Terjun Cikaso

Air hijau turquoise
Read the rest of this entry »